Willkommen


Powered By Blogger

Mengenai Saya

Foto saya
kota kuda (kuningan), jawabarat, Indonesia

Pengikut

Jumat, 12 Februari 2010

inflasi

inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.
Pengelompokan Inflasi
Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokan ke dalam 7 kelompok pengeluaran (berdasarkan the Classification of individual consumption by purpose - COICOP), yaitu :
1. Kelompok Bahan Makanan
2. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau
3. Kelompok Perumahan
4. Kelompok Sandang
5. Kelompok Kesehatan
6. Kelompok Pendidikan dan Olah Raga
7. Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

Determinan Inflasi
Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.
Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian. Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam keputusan kegiatan ekonominya. Ekspektasi inflasi tersebut apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum regional (UMR). Meskipun ketersediaan barang secara umum diperkirakan mencukupi dalam mendukung kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa pada saat-saat hari raya keagamaan meningkat lebih tinggi dari komdisi supply-demand tersebut. Demikian halnya pada saat penentuan UMR, pedagang ikut pula meningkatkan harga barang meski kenaikan upah tersebut tidak terlalu signifikan dalam mendorong peningkatan permintaan
Penetapan Target Inflasi
Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi berdasarkan UU mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK). Berdasarkan KMK No.1/KMK.011/2008 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2008 – 2010, masing-masing sebesar 5,0%, 4,5%, dan 4,0% dengan deviasi ±1%.
Sasaran inflasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya ke depan sehingga tingkat inflasi dapat diturunkan pada tingkat yang rendah dan stabil. Pemerintah dan Bank Indonesia akan senantiasa berkomitmen untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan tersebut melalui koordinasi kebijakan yang konsisten dengan sasaran inflasi tersebut. Salah satu upaya pengendalian inflasi menuju inflasi yang rendah dan stabil adalah dengan membentuk dan mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat agar mengacu (anchor) pada sasaran inflasi yang telah ditetapkan (Lihat Keputusan Menteri Keuangan tentang sasaran inflasi 2008-2010)
Angka target atau sasaran inflasi dapat dilihat pada web site Bank Indonesia atau web site instansi Pemerintah lainnya seperti Departemen Keuangan, Kantor Menko Perekonomian, atau Bappenas. Sebelum UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan oleh Bank Indonesia. Sementara setelah UU tersebut, dalam rangka meningkatkan kredibilitas Bank Indonesia maka sasaran inflasi ditetapkan oleh Pemerintah.
SEPERTI APA SIH YANG SEBENARNYA TERJADI PADA TAHUN 2001-2006 ITU?
Masalah inflasi yang di alami Indonesia pada tahun 2001 sampai 2006 adalah masalah kenaikan harga BBM yang menyebabkan kenaikan harga barang pokok.
Selain adanya masalah tersebut,masalah yang timbul adalah masalah TKI Indonesia serta ketidak percayaan masyarakat kepada pemerintah akibat korupsi dsb.






Tabel perbandingan Target Inflasi dan Aktual Inflasi
Tahun Target Inflasi Inflasi Aktual
(%, yoy)
2001 4% - 6% 12,55
2002 9% - 10% 10,03
2003 9 +1% 5,06
2004 5,5 +1% 6,40
2005 6 +1% 17,11
2006 8 +1% 6,60
2007 6 +1% 6,59
2008 5 +1% 11,06
2009 4,5 +1% 2,78
2010* 4+1% -

*) berdasarkan KMK No. 1/KMK.0.11/2008












LAPORAN INFLASI (Indeks Harga Konsumen)
Berdasarkan perhitungan inflasi tahunan
Grafik Timeseries
Bulan Tahun Tingkat Inflasi
Desember 2006 6.60 %
November 2006 5.27 %
Oktober 2006 6.29 %
September 2006 14.55 %
Agustus 2006 14.90 %
Juli 2006 15.15 %
Juni 2006 15.53 %
Mei 2006 15.60 %
April 2006 15.40 %
Maret 2006 15.74 %
Februari 2006 17.92 %
Januari 2006 17.03 %
Desember 2005 17.11 %
November 2005 18.38 %
Oktober 2005 17.89 %
September 2005 9.06 %
Agustus 2005 8.33 %
Juli 2005 7.84 %
Juni 2005 7.42 %
Mei 2005 7.40 %
April 2005 8.12 %
Maret 2005 8.81 %
Februari 2005 7.15 %
Januari 2005 7.32 %
Desember 2004 6.40 %
November 2004 6.18 %
Oktober 2004 6.22 %
September 2004 6.27 %
Agustus 2004 6.67 %
Juli 2004 7.20 %
Juni 2004 6.83 %
Mei 2004 6.47 %
April 2004 5.92 %
Maret 2004 5.11 %
Februari 2004 4.60 %
Januari 2004 4.82 %
Desember 2003 5.16 %
November 2003 5.53 %
Oktober 2003 6.48 %
September 2003 6.33 %
Agustus 2003 6.51 %
Juli 2003 6.27 %
Juni 2003 6.98 %
Mei 2003 7.15 %
April 2003 7.62 %
Maret 2003 7.17 %
Februari 2003 7.60 %
Januari 2003 8.68 %
Desember 2002 0.00 %
November 2002 0.00 %
Oktober 2002 0.00 %
September 2002 0.00 %
Agustus 2002 0.00 %
Juli 2002 0.00 %
Juni 2002 0.00 %
Mei 2002 0.00 %
April 2002 0.00 %
Maret 2002 0.00 %
Februari 2002 0.00 %
Januari 2002 0.00 %














ARGUMEN: seperti yang sudah di sebutkan diatas bahwa yang melatar belakangi inflasi di Indonesia pada tahu 2001 sampai tahun 2006 itu adalah masalah kenaikan harga BBM yang menyebabkan pula (berdampak) pada kenaikan harga barang pokok.
Selain adanya masalah tersebut,masalah yang timbul adalah masalah TKI Indonesia serta ketidak percayaan masyarakat kepada pemerintah akibat korupsi dsb.

Senin, 08 Februari 2010

3 desember 2009



ni kue ultah ara... dapet dikasih dari rena,viki,sela.. kawaii.. hahaha...



nia photo pas ara ultah..
dapet surprise dari rena,viki,sela.. malem" dateng kerumah gara" pas di sekolah ara ngambek. hahaha...


terakhir photo" barenngg... hahaha...

makasih yahh...senengg pisannn... :)

Minggu, 07 Februari 2010

ya,,seperti ini.

kenapa aku kalo ketawa suka lebay?
soalnya cuma saat itu aku bisa ketawa..hal yang jarang terjadi aku lakukan di rumah.
terlahir dengan ayah yang galak,di tambah ibu yang mencoba selalu sabar dan kuat dan kakak kakak yang sudah bekerja dan berkeluarga,jadi ya cuma saat di luar rumah bareng temen aku bisa ketawa..